Ketika Hormuz Terbakar, Beijing Tersenyum: Siapa Sebenarnya Menang dalam Perang Iran–AS–Israel?”

 


Ada satu hal penting yang jarang masuk dalam laporan intelijen atau perhitungan militer, tetapi sangat penting untuk menentukan siapa yang benar-benar menang dalam konflik geopolitik: kepercayaan. Dan bukan kepercayaan dalam arti emosional, tetapi kepercayaan dalam bagaimana sebuah negara dipandang, dipercaya, dan diandalkan setelah senjata berhenti berbunyi.

Perang yang kini berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dengan operasi militernya yang berhasil membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mungkin dianggap sebagai kemenangan militer. Namun, dari sudut pandang yang lebih luas, ini tidak lagi tentang siapa yang menang di medan perang. Jauh dari itu yang dipertaruhkan adalah siapa yang kehilangan kepercayaan dunia, siapa yang mendapatkan reputasi baru, dan siapa yang mendapatkan keuntungan jangan Panjang serta  pengaruh yang semakin besar.

Pengaruh ini sudah bisa terlihat, Dimana ada satu kekuatan besar yang belum menembakkan satu peluru pun dalam konflik ini, namun mendapatkan keuntungan yakni Tiongkok. Dan ada satu negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang juga  memiliki modal besar untuk berbicara lantang di panggung dunia  namun hingga kini masih memilih berbisik bahkan diam yakni Indonesia.

Kemenangan Militer Tidak Selalu Berarti Kemenangan Strategis

Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan  ke Iran, dunia mempertanyakan namun mereka selalu berdalih bahwa  ini untuk keamanan global. Tentu tujuannya Adalah untuk mencegah pengembangan senjata nuklir iran dan menekan kekuatan militer yang dianggap mengancam stabiltas dunia khususnya dikawasan Timur Tengah terutama ancaman langsung bagi Israel.

Dalam jangka pendek, tujuan ini mungkin terlihat tercapai dan bisa menjadi alasan kuat. Namun yang perlu diperhatikan setiap operasi militer selalu memiliki biaya yang tidak selalu terlihat secara langsung.

Biaya pertama adalah biaya militer. Perang yang berkepanjangan tentu akan menghabiskan amunisi senjata dan sistem pertahanan. Analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk memulihkan Kembali sistem pertahanan mereka  seperti rudal Patriot dan THAAD setelah perang yang dilakukan.

Ini Adalah alarm bagi Amerika Serikat. Ketika sistem pertahanan terfokus ke Iran ada yang terlupa dan terabaikan yakni Selat Taiwan  tempat paling berbahaya di bumi. Tempat Dimana pertarungan dua kekuatan raksasa dunia, AS dan Tiongkok.

Biaya kedua yang jauh lebih besar adalah biaya reputasi global. Bagi banyak negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin, konflik ini tidak selalu dilihat sebagai upaya menjaga keamanan dunia. Sebagian justru melihatnya sebagai serangan terhadap negara berdaulat tanpa mandat jelas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ketika persepsi seperti ini muncul, dampaknya tidak hanya terjadi dalam diplomasi, tetapi juga dalam hubungan ekonomi, perdagangan, dan aliansi internasional. Dampk ini sudah mulai dirasakan dimana negara-negara sekutu Amerika Serikat Selama ini Inggris, Jerman dan Spanyol enggan untuk terlibat langsung dalam perang yang diinisiasi Amerika Serikat ini.

Sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa superioritas militer tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik. Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan menunjukkan bahwa negara yang unggul dalam kapasitas militer tetap dapat mengalami kegagalan dalam membangun legitimasi politik, stabilitas, dan dukungan internasional.


Khamenei, Selat Hormuz, dan Narasi Syahid: Geopolitik Energi dan Psikologi Perlawanan

Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari. Selain itu, sekitar 20–25 persen dari semua perdagangan gas alam cair (LNG), Pupuk Urea bahkan produk pangan dan pertanian Kawasan Timur Tengah juga melintasi area ini. Jika perang berlanjut, harga minyak global  dan bahan pokok produk lainnya bisa melonjak tajam.

Bahkan harga minyak bisa naik hingga 150 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi yang terjadi kemudian memiliki konsekuensi langsung bagi ekonomi dunia. Inflasi bisa meningkat, biaya transportasi naik, rantai pasokan makanan dan energi mungkin menghadapi tekanan lagi. Perlu kita ingat Badan Energi Internasional (IEA) menyampaikan dalam analisanya bahwa kenaikan harga minyak 10 dolar per barel dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 0,15 persen per tahun. Angka ini kecil, tetapi bisa sangat signifikan bagi banyak negara berkembang yang dperparah lagi memiliki utang yang besar.

Namun, ekonomi global bukan satu-satunya yang terdampak oleh perang ini. Ada hal lain yang tidak selalu diperhitungkan dalam perencanaan strategis: potensi simbol dan narasi dalam membentuk respons masyarakat jangka panjang. Dalam banyak rencana strategis militer, membunuh seorang pemimpin juga dianggap sebagai langkah strategis untuk melemahkan sebuah gerakan atau organisasi. Kehilangan tokoh sentral ini seharusnya, secara logis, memecah kohesi sosial dan melemahkan organisasi atau negara yang dipimpin. Namun, ini Adalah Persia Dimana realitas psikologis tidak berjalan seperti itu.

Dalam tradisi Syiah, yang memiliki narasi kuat tentang kesyahidan, kematian seorang pemimpin tidak selalu dipandang sebagai akhir perjuangan. Sebaliknya, ini menjadi titik awal munculnya energi baru dalam gerakan tersebut. Emosi bangsa Arya yang muncul dari kehilangan figur yang dihormati dapat melampaui kekuatan argumen ideologis. Hal ini mampu menyatukan kelompok yang sebelumnya terpecah, membakar semangat bersama, dan bahkan menyatukan anak muda dan orang tua di Iran. 

Contoh nyata peristiwa kematian Qasem Soleimani pada tahun 2020. Pada saat itu,  Amerika Serikat dan sekutu memprediksi bahwa kematian komandan militer penting ini akan melemahkan posisi Iran. Namun yang terjadi sebaliknya: hal itu memicu ledakan nasionalisme di Iran yang memperkuat dan menyatukan berbagai faksi yang sebelumnya berseteru.

Jika pola psikologis ini kembali terulang, maka membunuh pemimpi Iran tidak serta-merta menjadi kekalahan bagi bangsa Persia. Sebaliknya, peristiwa itu dapat melahirkan generasi baru perlawanan yang dibungkus dalam narasi kesyahidan—sebuah narasi yang jauh lebih sulit dinegosiasikan secara politik maupun militer.

Di sinilah sering muncul kesalahan strategis yang berulang dalam banyak konflik modern: menganggap bahwa menghilangkan seorang figur berarti mengakhiri gerakan. Padahal dalam sistem kepercayaan yang kuat dan terstruktur, figur yang gugur justru dapat berubah menjadi simbol yang lebih abadi dibandingkan ketika ia masih hidup. Ia tidak lagi dapat melakukan kesalahan, tidak dapat dikritik, dan dapat diproyeksikan sebagai simbol ideal oleh generasi yang mewarisi kemarahannya.

Dengan demikian, konflik ini bukan hanya soal strategi militer atau stabilitas ekonomi global melalui Selat Hormuz. Namun ini juga  menyangkut perang narasi dan simbol, yang dalam banyak kasus justru memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Beijing (Tiongkok) dan Keuntungan Tanpa Perang

Sementara Amerika Serikat dan Israel saat ini terlibat dalam konflik militer invasi Iran, Tiongkok mengikuti jalur yang berbeda. Beijing tidak terlibat secara militer, tetapi bisa mendapatkan keuntungan secara geopolitik. Tiongkok mengisi kekosongan kepercayaan yang ditinggalkan oleh kekuatan-kekuatan yang Sudah hilang legitimasi moral.

Sebenarnya Tiongkok sudah menunggu lama perang ini terjadi, mereka sudah menyiapkan diri dengan sangat baik. Kerangka-kerangka yang sudah disusun mulai dari kerangka ekonomi, militer, dan Sumber Daya Insani mereka menunjukan bahwa "Impian Tiongkok" (Zhongguo Meng) yang dicetuskan oleh Presiden Xi Jinping visi strategis untuk mencapai "peremajaan besar bangsa Tiongkok". Konsep menjadikan Tiongkok sebagai negara sosialis modern yang makmur, kuat, dan berpengaruh secara global pada tahun 2049 kemungkinan akan terwujud sedikit lebih cepat.

Pada perang dan konflik  Iran ini Tiongkok  memaksa Amerika Serikat untuk memindahkan sumber daya militer dari Kawasan Indo-Pasifik ke Kawasan Timur Tengah. Ketika ini terjadi maka Kawasan Selat Taiwan dan hal lainnya Tiongkok tanpa gangguan akan melakukan rencana-rencana yang sempat tertunda dalam menguasai Kawasan tersebut. belum lagi urusan biaya perang Iran yang begitu besar  mencapai 15 triliun per hari memaksa Amerika Serikat berpikir serius dan fokus kepada satu tempat.

Keuntungan lainnya untuk Tiongkok tercermin dalam mengisi kekosongan kepercayaan melalui kerangka BRICS yang kini mencakup lebih dari dua belas anggota dan mitra, Belt and Road Initiative,  serangkaian perjanjian bilateral, Tiongkok membangun jaringan dan kekuatan yang tidak bergantung pada kekuatan militer. Namun, fokus kepada kekuatan kemitraan ekonomi yang dirasakan menguntungkan oleh pihak-pihak yang selama ini merasa diabaikan oleh Amerika Serikat.

Dengan kekuatan tersebut, tentu ini semakin menguatkan Tiongkok untuk menjadi mitra alternatif bagi negara-negara berkembang. Amerika Serikat dianggap melanggar prinsip-prinsip yang selama ini mereka buat sendiri. Sehingga kepercayan dunia menurun bahkan rusak. Tiongkok sebagai alternatif menawarkan diri dengan kekuatan ekonominya. Tiongkok masuk bukan dengan mengklaim dirinya paling benar, tetapi cukup dengan hadir sebagai alternatif yang tidak menggurui atau menghakimi.”

Indonesia di Tengah Badai: Modal Diplomasi yang Belum Digunakan

Dalam situasi seperti ini, Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup unik. Posisi tengahan dalam hukum internasional yang memungkinkan Indonesia sebagai mediator dalam berbagai konflik internasional. Indonesia memiliki kombinasi modal yang langka dalam sistem internasional. Populasi Muslim terbesar di dunia yang secara historis mengidentifikasi diri dengan Islam moderat dan demokratis. Rekam jejak panjang sebagai penengah konflik regional melalui ASEAN. Keanggotaan aktif di G20 yang memberi akses ke forum pengambilan keputusan ekonomi global.

Kepercayaan yang diberikan oleh banyak pihak adalah aset strategis yang tidak dapat dibeli bahkan dengan anggaran pertahanan terbesar sekalipun. Indonesia berada dalam posisi ini bukan secara kebetulan. Hal ini adalah hasil dari sikap kebijakan luar negeri yang sudah dibangun selama beberapa dekade. Justru karena alasan itu, akan sangat disayangkan jika kita tidak menggunakan modal kepercayaan ini pada saat dunia membutuhkan suara yang netral dan tidak memihak.

Prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi politik luar negeri Indonesia menjadikan kita kuat disertai adanya keikut sertaan Indonesia di dua organisasi yang dibangun kedua kubu. Indonesia memiliki kesempatan untuk menegaskan kembali peran Indonesia sebagai kekuatan moral Global South: mendesak penghentian permusuhan, mendorong mekanisme mediasi melalui PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan memimpin narasi bahwa ada jalan lain selain kekerasan untuk menyelesaikan sengketa di antara negara-negara berdaulat.

Presiden Prabowo tidak memulai sebagai mediator langsung tapi mengajak Bersama dengan organisasi Kerjasama Dimana Indonesia ada didalam,  mendorong melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mendorong melalui Board of Peace Dimana organisasi yang dibangun  oleh Donald Trump, begitu juga mendorong melalui BRICS Dimana Indonesia turut aktif sebagai anggota.

Dengan hal ini yang dilakukan, menjadi penghubung dua kubu setidaknya mengurangi ketegangan yang ada dan adanya perundingan untuk menyalamatkan dunia dari perang besar.

 Dr. Emaridial Ulza, MA


 

0 Komentar

Brand creation, trend analysis & style consulting

Memiliki ketertarikan penelitian pada Operations Management, Integrated Marketing Communications, Strategic Management, Philanthropy, Social Entrepreneurship and Neuromarketing